Faktor yang mempengaruhi perkembangan
Perkembangan anak dipengaruhi oleh 2 faktor utama:
- Faktor bawaan (herediter). Merupakan suatu kondisi yang 'terberi' sejak lahir seperti potensi kecerdasan, bakat, minat dan kecenderungan atau sifat yang diturunkan dari orang tua.
- Faktor pengalaman (lingkungan). Merupakan suatu kondisi yang dialami anak sepanjang kehidupannya baik di rumah, sekolah maupun lingkungan pergaulan di luar rumah. Setiap anak mengembangkan pola perilaku yang unik sesuai dengan pengalamannya yang berbeda-beda dalam pemenuhan dan pengembangan kebutuhannya.
Karakteristik
Anak Kecill (6 - 8 tahun)
- aktif melakukan kegiatan fisik
- suka bekerjasama
- dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan
- rasa ingin tahu semakin besar
- hubungan sosial meluas
Anak Sedang (9 - 11 tahun)
- fisik semakin berkembang
- sulit mengembangkan hubungan sosial dengan lawan jenis yang seusia
- menyukai persaingan
- menyukai kegiatan yang menantang
- memuja tokoh pahlawan
- bisa menerima tugas dan tanggung jawab
Anak besar/remaja (12 - 14 tahun)
- fisik berkembang sangat pesat
- mengalami proses pematangan seksual
- suka mengkritik
- daya berpikir logis mulai berkembang
- emosi tidak stabil
- ingin mandiri
Guru dan orang tua yang bijaksana akan mengajar dan
mendidik anaknya dengan cara yang paling sesuai dengan keunikan anak. Sebab itu
sangat penting bagi kita untuk mengetahui kebutuhan anak pada setiap tahap
perkembangannya. Seorang tokoh psikologi perkembangan kognitif bernama Piaget
berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan
anak.
Selain itu, Piaget juga menganggap bahwa belajar
adalah proses yang aktif dimana seorang anak berinteraksi dengan lingkungannya
untuk memecahkan atau mengatasi persoalannya. Anak bereksplorasi dan
menjelajahi dunianya untuk menemukan pengetahuan demi pengetahuan. Pada awalnya
proses berpikir anak sangat sederhana. Namun, semakin lama semakin kompleks.
Oleh karena itu, menurut Piaget, tugas guru bukanlah
memberikan pengetahuan kepada anak, melainkan mencarikan, menunjukkan atau
memberikan saran yang merangsang minat anak untuk menemukan pengetahuan guna
memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Tugas ini kelihatannya sederhana,
namun sesungguhnya bukanlah tugas yang mudah.
Jadi tidak ada cara atau metode yang lebih baik yang
sesuai untuk semua anak. Metode tertentu sesuai untuk anak 3 tahun, namun tidak
tepat untuk remaja. Dengan demikian, kita perlu mencermati metode mengajar yang
sesuai untuk setiap tahap perkembangan anak.
Anak
Kecil (6 - 8 tahun)Anak usia 6-8 tahun menyukai permainan dalam kelompok. Guru perlu membimbing anak untuk mengembangkan rasa persahabatan diantara anak-anak. Ajarkan anak untuk belajar bekerjasama dan saling berbagi. Tekankan pelajaran tentang kasih sayang terhadap sesama dan mahluk ciptaan Tuhan. Berikan pujian dan dorongan untuk perbuatan-perbuatan yang positif. Ciri khas anak usia ini adalah berkembangnya konsep; walaupun masih sulit memahami kata-kata yang abstrak. Dengan demikian, anak sudah lebih mampu mengerti keselamatan dan iman. Mereka perlu didorong untuk menghafal ayat Alkitab dan membaca buku rohani karena sudah mulai dapat membaca. Selain itu, anak juga senang mendengarkan pengalaman nyata seperti kesaksian.
Anak sedang (9 - 11 tahun)
Anak umur 9-11 tahun menyukai aktifitas bersama di
tempat terbuka terutama dengan teman sejenis. Mereka juga menyukai diskusi
kelompok dan perlombaan seperti kuis Alkitab. Anak usia ini biasanya senang
bergurau dan mengumpulkan koleksi benda-benda. Mereka penuh daya kreatif. Oleh
karena itu, daya pikir mereka sudah lebih berkembang. Dengan demikian, guru
perlu melengkapi agar dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Anak-anak dapat
diceritakan mengenai tokoh Alkitab maupun tokoh rohani. Guru bisa membicarakan
dan mendiskusikan hal keselamatan secara lebih mendalam. Hal lain yang penting
yaitu guru perlu mendorong anak-anak untuk bersaat teduh dan mengembangkan hobi
yang positif.
Anak Besar
(12-14 tahun)
Kelompok ini biasanya disebut remaja awal. Remaja
adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masalah besar yang
harus dihadapi adalah krisis identitas. Untuk membantu mereka mengatasi krisis
ini ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat. Guru jangan menempatkan diri
sebagai orang dewasa yang lebih tahu, melainkan ambillah peran sebagai teman
bagi mereka. Gunakan metode kreatif. Tidak memonopoli, melainkan melibatkan.
Tidak menyuap, melainkan merangsang nafsu makan. Tidak menggurui, melainkan
mendampingi. Dalam pengajaran di kelas, buatlah awal yang menarik, penggalian
firman Tuhan, menghubungkan firman Tuhan dengan hal praktis masa kini. Akhirnya
doronglah mereka untuk menerapkan firman Tuhan. Dengan semakin berkembangnya
daya pikir, mereka menjadi sangat kritis. Oleh karena itu mereka cenderung suka
mengkritik, walaupun mereka sendiri tidak suka dikritik. Perbuatan akan
berbicara jauh lebih keras daripada kata-kata yang diucapkan. Dengan demikian
berilah teladan yang baik bagi mereka.